Kamis, 24 Mei 2012

KELOMPOK 9: TARAF KESUKARAN TES DAN DAYA PEMBEDA TES


TARAF KESUKARAN TES DAN DAYA PEMBEDA TES
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas kelompok
Mata Kuliah: Evaluasi Pembelajaran
Dosen: Naeila Rifatil Muna, S.Psi.M.Pd







Disusun Oleh:
Fadilah                  : (59430585)
                                     Fahmi Khaidir. A.  : (59430586)
         Elin Yulianti          : (59430583)
         Nurul Aini              : (59430605)

Tarbiyah/PBI-C/VI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
2012


KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah Swt. yang telah memberikan begitu banyak limpahan nikmat sehingga di antara nikmat-Nya tersebut penulis dapat menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah dalam rangka menuntut ilmu.
Shalawat beriringkan salam semoga tetap terlimpah curahkan kepada baginda kita yang telah menuntun umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman ilmiah a’ni Nabi besar Muhammad Saw. juga kepada keluarganya, para sahabatnya, tabi’in dan tabi’atnya, serta sampai kepada kita selaku umatnya hingga hari kiamat, Amiin.
Selanjutnya makalah yang berada di hadapan pembaca merupakan uraian materi yang ditulis mengacu kepada potensi kependidikan, khususnya kegiatan seorang pendidik dengan Dosen pengampu, M.Pd. yaitu. yang Alhamdulillah telah selesai ditulis. Tidak akan ada kata selesai disusun makalah ini melainkan dukungan dari semua pihak baik segi moril maupun materil. Untuk itu penulis sampaikan banyak terima kasih.
Sudah barang tentu dalam makalah ini tidak luput dari kekeliruan ataupun kekurangan baik dalam materi maupun dalam hal ikhwal penyusunan. Untuk itu penulis bermohon maaf dan tak lupa untuk sedia menerima berbagai masukan yang bersifat membangun untuk penyempurnaannya.Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan untuk para pembaca pada umumnya.



DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................ ii
Daftar Isi....................................................................................................... iii

I.         PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang.............................................................................
B.      Rumusan Masalah..........................................................................   
C.       Tujuan Masalah..........................................................................................  

II.            PEMBAHASAN
A.       Analisis Tingkat Kesukaran Test..................                                   
B.      Daya Pembeda Test..................................................

III.            KESIMPULAN DAN SARAN
A.      Kesimpulan............................................................................................

Daftar Pustaka



BAB1
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Tes merupakan suatu bentuk alat evaluasi untuk mengukur seberapa jauh tujuan pengajaran telah tercapai. Salah satu cara untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang paling efektif ialah dengan jalan mengevaluasi tes hasil belajar yang diperoleh dari proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan kata lain, hasil tes itu kita olah sedemikian rupa sehingga dari hasil pengolahan itu dapat diketahui komponen-komponen manakah dari proses belajar-mengajar itu yang masih lemah.
Pengolahan tes hasil belajar dalam rangka memperbaiki proses belajar-mengajar dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
a.       Dengan membuat analisis soal (item analisis)
b.      Dengan menghitung validitas dan keandalan
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai analisis soal (item analisis). Analisis butir soal atau item analisis adalah pengkajian pertanyaan-pertanyaan tes agar diperoleh perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai. Ada dua jenis analisis butir soal, yakni analisis tingkat kesukaran soal dan analisis daya pembeda.
Menurut Thorndike dan hagen (1977), analisis terhadap soal-soal tes yang telah dijawab oleh murid-murid mempunya dua tujuan penting, yaitu:
·         Pertama, jawaban-jawaban soal itu merupakan informasi diagnostic untuk meneliti pelajaran dari kelas itu dan kegagaln-kegagalan belajarnya, serta selanjutnya untuk membimbing kea rah cara belajar yang lebih baik.
·         Jawaban-jawaban terhadap soal-soal yang terpisah dan perbaikan (review) soal-soal yang didasarkan atas jawaban-jawaban itu merupakan basis bagi penyiapan tes-tes yang lebih baikuntuk tahun berikutnya.
Jadi, tujuan khusus dari analisis soal adalah mencari soal tes mana yang baik dan mana yang tidak baik, dan mengapa item soal itu dikatakan baik atau tidak baik.





B.     Rumusan Masalah
1.      Sampai dimana tingkat atau taraf kesukaran soal itu?
2.      Apakah soal itu mempunyai daya pembeda  sehingga dapat membedakan kelompok siswa yang pandai dengan kelompok siswa yang tidak pandai?.

C.    Tujuan Masalah
1.         Untuk mengetahui dimana tingkat atau taraf kesulitan soal itu.
2.         Untuk mengetahui apakah soal itu mempunyai daya pembeda atau tidak.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Analisis Tingkat Kesukaran Test
Analisis tingkat kesukaran soal yaitu mengkaji soal-soal tes dari segi kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawab, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan criteria soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar.
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya bekisar 0,00 – 1,00. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil perhitungan, berarti semakin mudah soal itu.  
Di dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran diberi simbol P (p besar), singkatan dari kata ”proporsi”. Adapun persamaan atau rumus yang digunakan untuk mencari P adalah:
P  =      x__
            SmN
P          : proporsi menjawab benar atau tingkat kesukaran
 x         : banyaknya peserta didik tes yang menjawab benar
Sm       : skor maksimum
N         : jumlah

 Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu. Sebagai pedoman umum, tingkat kesukaran soal dapat dikategorikan sebagai berikut. 

Nilai (p)
Kategori
p  <  0,3
0,3  ≤  p  ≤  0,7
p  >  0,7

Sukar
Sedang
Mudah



RESPONDEN
SKOR BUTIR SOAL SETIAP NOMOR SOAL
TOTAL SKOR
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
6
2
0
1
1
0
1
1
0
1
0
0
5
3
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
9
4
1
1
0
1
0
1
1
0
0
0
5
5
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1
5
6
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
6
7
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
3
8
0
1
1
1
1
0
0
0
1
1
6
9
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
9
10
0
0
1
0
0
1
0
1
0
1
4
11
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
8
12
0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
5
13
1
1
0
1
1
1
0
1
1
0
7
14
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
7
15
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
3
16
1
1
0
1
0
1
0
0
0
1
5
17
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
7
18
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
6
19
1
0
0
1
0
1
0
1
0
1
5
20
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
6
X
10
14
13
14
13
14
3
14
10
12
117
N = 20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20

P
0.5
0.7
0.65
0.7
0.65
0.7
0.15
0.7
0.5
0.6


P(1) = ­­__x___                           P(2) = ­­__x___                           P(3) = ­­__x__
SmN                                          SmN                                        SmN
_10___                                       _14__                                      _13__ 
1x20                                           1x20                                        1x20                           
0.5 sedang                                 0.7 mudah                               0.65 sedang

P(4) = ­­__x___                          P(5) = ___x__                         
SmN                                          SmN   
_14___                                       _13__
1x20                                           1x20                                                                           
          0.5 sedang                                 0.65 sedang


P(6) = ­­__x___                           P(7) = ­­__x___                           P(8) = ­­__x___  
            SmN                                        SmN                                        SmN                           
_14__                                         _3___                                      _14_
1x20                                           1x20                                        1x20               
          0.7 mudah                                  0.15 sukar                                0.7 mudah
P(9) = ­­__x___                          P(10) = ___x__
SmN                                          SmN                           
_10___                                       _12___
          1x20                                           1x20                                       
          0.5 sedang                                 0.6 sedang
                                
Dari hasil perhitungan nampak bahwa tingkat kesukaran soal nomor 2, 6 dan 8 adalah 0.7 atau tujuh puluh persen peserta didik tes menjawab benar. Soal no 2, 6 dan 8 adalah soal yang paling mudah. Sebaliknya, tingkat kesukaran soal nomor 7 adalah 0.15 lima belas persen  peserta didik tes yang menjawab benar soal tersebut. Soal nomor 7 adalah soal yang paling sukar di antara semua soal. Sedangkan soal nomor 1, 3, 4, 5, 8, 9 dan 10  termasuk pada kategori soal yang sedang.
Setelah  indeks  tingkat  kesukaran  diperoleh,    maka  harga  indeks kesukaran tersebut diinterpretasikan pada kriteria sesuai tabel  berikut:
Interpretasi Tingkat Kesukaran
Indeks Tingkat Kesukaran
Kriteria
0 – 15 %        
Sangat sukar, sebaiknya dibuang
16 % – 30 %  
Sukar
31 % – 70 % 
Sedang
71% - 85%
Mudah
86%-100
Sangat mudah, sebaiknya dibuang

Soal dikatakan baikapabila soal tersebut tidak terlalu sukar atau terlalu mudah. Soal yang terlalumudah, yakni semua anak dapat mengerjakan dengan benar, adalah tidak baik. Demikian juga soal yang terlalu sukar, yaitu semua anak tidak dapatmengerjakan soal dengan benar, juga merupakan soal yang tidak baik. Hal itu disebabkan karena soal yang terlalu mudah tidak merangsang peserta didikuntuk mempertinggi usaha memecahkannya. Dan soal yang terlalu sukar menyebabkan peserta didik putus asa serta menjadi tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.
            Ada beberapa dasar pertimbangan dalam menentukan proporsi jumlah soal kategori mudah, sedang, dan sukar. Pertimbangan pertama adalah adanya keseimbangan, yakni jumlah soal sama untuk ketiga kategori tersebut. Artinya, soal mudah, sedang, dan sukar jumlahnya seimbang. Persoalan lain adalah menentukan criteria soal, yaitu ukuran untuk menentukan apakah soal tersebut termasuk mudah, sedang atau sukar. Dalam menentukan criteria ini digunakan judgement dari guru berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut antara lain adalah :
a.       Abilitas yang diukur dalam pertanyaan tersebut
b.      Sifat materi yang diujikan atau ditanyakan
c.       Isi bahan yang ditanyakan sesuai dengan bidang keilmuannya, baik luasnya maupun kedalamannya
d.      Bentuk soal

B.     Daya Pembeda Test
Yang dimaksid dengan daya pembeda suatu soal tes adalah bagaimana kemampuan soal itu untuk membedakan siswa-siswa yang termasuk kelompok pandai, dengan siswa-siswa yang termasuk kelompok kurang. Artinya, bila soal tersebut diberikan kepada anak yang mampu hasilnya menunjukkan prestasi yang tinggi, dan bila diberikan kepada siswa yang lemah, hasilnya rendah. Tes dikatakan tidak memiliki daya pembeda apabila tes tersebut, jika diujikan kepada anak berprestasi tinggi, hasilnya rendah tetapi bila diberikan kepada anak yang lemah hasilnya lebih tinggi. Atau bila diberikan kepada kedua kategori siswa tersebut hasilnya sama saja.
Dengan demikian, tes yang tidak memiliki daya pembeda, tidak akan menghasilkan gambaran hasil yang sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. Akan terlihat aneh apabila anak pandai tidak lulus tetapi anak bodoh lulus dengan baik tanpa dilakukan manipulasi oleh si penilai atau di luar factor kebetulan.
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks daya pembeda (item discrimination) disingkat D (d besar). Indeks daya pembeda didefinisikan sebagai selisih antara proporsi jawaban benar pada kelompok atas (peserta didik tes yang mampu/pandai) dengan proporsi jawaban benar pada kelompok bawah (peserta didik tes yang kurang mampu/pandai). Umumnya, para ahli tes membagi kelompok ini menjadi 27% atau 33% kelompok atas dan 27% atau 33% kelompok bawah (Cureton, 1957).
Pembagian Kelompok 27%
Responden
SKOR BUTIR SOAL SETIAP NOMOR SOAL
Total Skor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
9
2
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
9
3
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
8
4
1
1
0
1
1
1
0
1
1
0
7
5
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
7
6
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
7
7
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
6
8
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
6
9
0
1
1
1
1
0
0
0
1
1
6
10
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
6
11
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
6
12
0
1
1
0
1
1
0
1
0
0
5
13
1
1
0
1
0
1
1
0
0
0
5
14
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1
5
15
0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
5
16
1
1
0
1
0
1
0
0
0
1
5
17
1
0
0
1
0
1
0
1
0
1
5
18
0
0
1
0
0
1
0
1
0
1
4
19
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
3
20
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
3

Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai 1,00. Tanda negatif menunjukkan bahwa peserta didik tes yang kemampuannya rendah dapat menjawab benar sedangkan peserta didik tes yang kemampuannya tinggi menjawab salah. Dengan demikian, soal yang indeks daya pembedanya negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta didik tes. Indeks daya pembeda dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut ini.

                                    D = _A__ - B___
                                                nA           nB

D  = indeks daya pembeda
   A = jumlah peserta didik tes yang menjawab benar pada kelompok
atas
   B  = jumlah peserta didik tes yang menjawab benar pada kelompok
bawah
nA   =  jumlah peserta didik tes kelompok atas
nB   = jumlah peserta didik tes kelompok bawah

Pada kebanyakan kasus, jumlah peserta didik tes kelompok atas sama dengan jumlah peserta didik tes kelompok bawah, nA = nB = n. Dengan demikian maka rumus daya pembeda menjadi:
D = _A - B___
                                                n       




Kriteria indeks daya pembeda berdasarkan Crocker dan Algina (1986) adalah sebagai berikut :
Daya Pembeda
Kualifikasi
0,00 – 0,19
0,20 – 0,29
0,30 – 0,39

0,40 – 1,00
soal tidak dipakai/dibuang
soal diperbaiki
soal diterima tapi perlu diperbaiki
soal diterima/baik

Contoh:
Tingkat Kesukaran 27% kelompok atas (5 orang dari 20 peserta didik tes)
Responden
SKOR BUTIR SOAL SETIAP NOMOR SOAL
Total Skor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
9
2
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
9
3
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
8
4
1
1
0
1
1
1
0
1
1
0
7
5
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
7
Xatas
4
5
4
5
4
4
2
4
4
4

Skor maks
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Kel. Atas
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

(P) kel. Atas
0.80
1.00
0.80
1.00
0.80
0.80
0.40
0.80
0.80
0.80


Tingkat Kesukaran 27% kelompok bawah (5 orang dari 20 peserta didik tes)
Responden
SKOR BUTIR SOAL SETIAP NOMOR SOAL
Total Skor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
16
1
1
0
1
0
1
0
0
0
1
5
17
1
0
0
1
0
1
0
1
0
1
5
18
0
0
1
0
0
1
0
1
0
1
4
19
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
3
20
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
3
Xatas
3
1
3
2
1
3
0
3
1
3

Skor maks
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Kel. Bawah
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

(P) kel. bawah
0.60
0.20
0.60
0.40
0.20
0.60
0
0.60
0.20
0.60


Daya pembeda soal nomor 1 dapat dihitung seperti berikut:
D  = PA – PB
D = 0.8– 0.6
D = 0.2

Tabel berikut menunjukkan daya pembeda soal nomor 1 sampai dengan nomor 10 berdasarkan perbedaan 27% kelompok atas dan 27% kelompok bawah.
Daya Pembeda Soal
Soal
Tingkat kesukaran kelompok atas
Tingkat kesukaran kelompok bawah
Daya pembeda Soal (D)
1
0.80
0.60
0.20
2
1.00
0.20
0.80
3
0.80
0.60
0.20
4
1.00
0.40
0.60
5
0.80
0.20
0.60
6
0.80
0.60
0.20
7
0.40
0
0.40
8
0.80
0.60
0.20
9
0.80
0.20
0.60
10
0.80
0.60
0.20

Soal nomor 1, 3, 6, 8, dan 10 berdaya pembeda 0.20. Hal ini berarti kelompok lima soal tersebut mempunyai kualifikasi soal yang harus diperbaiki. Hal ini sesuai dengan pengklasifikasian daya pembeda oleh Crocker dan Algina yang telah dijelaskan diatas.







PERHITUNGAN TINGKAT KESUKARAN SOAL URAIAN
Responden
Nomor Soal
1
2
3
4
5
1
5
4
3
4
5
2
5
4
3
4
5
3
5
4
3
4
5
4
4
4
3
4
5
5
4
4
3
4
5
6
4
4
3
4
5
7
4
3
3
4
4
8
4
3
3
4
4
9
4
3
3
4
4
10
3
3
3
4
4
11
3
3
3
3
4
12
3
3
3
3
4
13
3
3
2
3
4
14
3
3
2
3
4
15
3
3
2
3
3
16
2
2
2
2
3
17
2
2
2
2
3
18
2
2
2
2
3
19
2
0
2
2
3
20
1
0
1
2
2
X
66
57
51
65
79
Skor Maksimum
5
4
3
4
5
Jumlah Peserta didik tes
20
20
20
20
20
Tingkat Kesukaran
0,66
0,71
0,85
0,81
0,79
            X         51
P(3)=          =           = 0,85
          SmN     3 x20
            X         65
P(4)=          =           = 0,81
          SmN     4 x20
            X         79
P(5)=          =           = 0,79
          SmN     5 x20
            X         57
P(2)=          =           = 0,71
          SmN     4 x20
            X         66
P(1)=          =           = 0,66
          SmN     5 x20








        Soal nomor 3 adalah soal paling mudah dengan tingkat kesukaran 0,85 sedangkan soal nomor  adalah soal yang paling sukar (0,535) di antara lima soal yang diujikan. Walaupun demikian, soal nomor 2 masih dikatagorikan soal yang sedang.

             Tingkat kesukaran akan berpengaruh pada variabelitas skor dan ketepatan membedakan antara kelompok peserta didik tes. Ketika seluruh soal sangat  sukar, maka skor total tentunya rendah. Sebaliknya, ketika seluruh soal sangat     mudah, tentunya skor total akan tinggi. Variabelitas akan maksimum ketika P=0,5. Skor akan lebih bervariasi ketika semua P terletak sekitar 0,5. Tingkat kesukaran sekitar 0,5 merupakan yang optimum. Untuk penggunaan di kelas, biasanya sebagian pendidik menggunakan tes yang sedang, yaitu P antara 0,3 sampai dengan 0,7.

Daya Pembeda Soal Uraian
Responden
Nomor Soal
1
2
3
4
5
1
5
4
3
4
5
2
5
4
3
4
5
3
5
4
3
4
5
4
4
4
3
4
5
5
4
4
3
4
5
6
4
4
3
4
5
7
4
3
3
4
4
8
4
3
3
4
4
9
4
3
3
4
4
10
3
3
3
4
4
11
3
3
3
3
4
12
3
3
3
3
4
13
3
3
2
3
4
14
3
3
2
3
4
15
3
3
2
3
3
16
2
2
2
2
3
17
2
2
2
2
3
18
2
2
2
2
3
19
2
0
2
2
3
20
1
0
1
2
2

Tabel berikut menunjukkan hasil perhitungan tingkat kesukaran masing-masing kelompok .

Tabel Kelompok Atas
1
5
4
3
4
5
2
5
4
3
4
5
3
5
4
3
4
5
4
4
4
3
4
5
5
4
4
3
4
5
XAtas
23
20
15
20
25
Skor Maksimum
5
4
3
4
5
Kelompok Atas
5
5
5
5
5
(P)  Kelompok Atas
0.92
1,00
1,00
1,00
1,00


Tabel Kelompok Bawah
16
2
2
2
2
3
17
2
2
2
2
3
18
2
2
2
2
3
19
2
0
2
2
3
20
1
0
1
2
2
XBawah
9
6
9
10
14
Skor Maksimum
5
4
3
4
5
Kelompok Bawah
5
5
5
5
5
(P)  Kelompok Bawah
0,36
0,30
0,60
0,50
0,56

Untuk mengetahui daya pemebeda pada soal urain, langkahnya sama dengan ketika mencari daya pembeda pada soal pilihan ganda yaitu:
D=PA-PB

Daya Pembeda Soal
Soal
Tingkat Keukaran Kelompok Atas
Tingkat Keukaran Kelompok Atas
Daya Pembeda Soal (D)
1
0,92
0,36
0,56
2
1,00
0,30
0,70
3
1,00
0,60
0,40
4
1,00
0,50
0,50
5
1,00
0,56
0,54

Hasil perhitungan daya pembeda, seperti terlihat pada tabel, menunjukkan bahwa hampir seluruh soal berfungsi sebagaimana mestinya,













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Analisis butir soal bertujuan untuk memperoleh kualitas soal yang baik sehingga dapat memperoleh gambaran tentang prestasi siswa yang sebenarnya. Ada beberapa cara melakukan analisis butir soal, yakni analisis tingkat kesukaran dan analisis daya pembeda. Analisis tingkat kesukaran soal bertujuan untuk dapat membedakan soal-soal katehori mudah, sedang, dan sukar. Sedangkan analisis daya pembeda mengkaji apakah soal tersebut punya kemampuan dalam membedakan siswa yang termasuk ke dalam kategori yang memiliki kemampuan tinggi dan kemampuan rendah.
Dengan demikian, soal yang memiliki daya pembeda, jika diberikan kepada siswa berkemampuan tinggi, hasilnya menunjukkan lebih tinggi daripada jika diberikan kepada siswa yang berkemampuan rendah.




DAFTAR PUSTAKA

DEPDIKNAS, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bahasa. 2009
Purwanto, Ngalim. 2010. Prinsip-prinsip dan Teknil Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Sudjana, Nana. ______. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
journal.mercubuana.ac.id
http://pakarbelajar.blogspot.com/2011/03/daya-pembeda-soal-daya-pembeda.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar