Senin, 21 Mei 2012

KELOMPOK 1: JENIS DAN SYARAT-SYARAT EVALUASI PEMBELAJARAN


JENIS DAN SYARAT-SYARAT EVALUASI PEMBELAJARAN
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Dosen : Naeila Rifatil Muna, S.Psi. M.Pd
Mata Kuliah : Evaluasi Pembelajaran







Kelompok-1
Anggota:
Apri Susanti                                        (59430574)
Dewi Purwahati                                  (59430580)
Susi Susilawati                                    (59430611)
Wulandari Desty Iriani                       (59430615)

PBI-C / semester VI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI
CIREBON
2012



Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunianya dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini merupakan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah evaluasi pembelajaran dan wajib dikerjakan oleh mahasiswa.
Penulisan makalah ini berjudul “Jenis dan Syarat-syarat Evaluasi Pembelajaran”. Alasan penulisan makalah ini adalah sebagai tugas dari mata kuliah Etika Profesi Keguruan yang harus dipresentasikan sebagai materi untuk dipelajari oleh mahasiswa.
Penulis menyadari akan keterbatasan dan kekurangan didalam penulisan makalah ini. Karenanya penulis sangat menghargai kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata, penulis mengharapkan semoga makalah yang jauh dari sempurna dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.


Cirebon,  Maret 2012


     Penulis





Daftar Isi
Kata Pengantar ...................................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................................... iii
1.      Pendahuluan
A.    Latar Belakang .................................................................................................... 1
B.     Tujuan dan Manfaat.............................................................................................. 2

2.      Pembahasan
A.    Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran ......................................................................... 3
B.     Syarat, Ragam dan Model Evaluasi....................................................................... 6

3.      Penutup
A.    Kesimpulan ........................................................................................................ 12
Daftar Pustaka






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Pembelajaran Berbasis Kompetensi merupakan wujud pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sebagai  curr√≠culum in action. Salah satu rangkaian pembelajaran berbasis kompetensi pelaksanaan adalah evaluasi pembelajaran berbasis kompetensi. Mengacu pada asumsi bahwa pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa unsur, yaitu masukan, proses dan keluaran/hasil; maka terdapat tiga jenis evaluasi sesuai dengan sasaran evaluasi pembelajaran, yaitu evaluasi masukan, proses dan keluaran/hasil pembelajaran.
Evaluasi masukan pembelajaran menekankan pada evaluasi karakteristik peserta didik, kelengkapan dan keadaan sarana dan prasarana pembelajaran, karakteristik dan kesiapan dosen, kurikulum dan materi pembelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan mata kuliah,  serta keadaan lingkungan dimana pembelajaran berlangsung.
Evaluasi proses pembelajaran menekankan pada evalusi pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh pembelajar meliputi keefektifan strategi pembelajaran yang dilaksanakan, keefektifan media pembelajaran, cara mengajar yang dilaksanakan, dan minat, sikap serta cara belajar mahasiswa.
Evaluasi hasil pembelajaran atau evaluasi hasil belajar antara lain mengguakan tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar sebagai prestasi belajar, dalam hal ini adalah penguasaan kompetensi oleh setiap mahasiswa.
Terkait dengan ketiga jenis evaluasi pembelajaran tersebut, dalam praktek pembelajaran secara umum pelaksanaan evaluasi pembelajaran menekankan pada evaluasi proses pembelajaran atau evaluasi manajerial, dan evaluasi hasil belajar atau evaluasi substansial. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran kedua jenis evaluasi tersebut merupakan komponen sistem pembelajaran yang sangat penting.  Evaluasi kedua jenis komponen yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Selanjutnya masukan tersebut pada gilirannya dipergunakan sebagai bahan dan dasar memperbaiki kualitas proses pembelajaran menuju ke perbaikan kualitas hasil pembelajaran.



B.     Tujuan dan Manfaat
1.      Tujuan
Tujuan dilaksanakannya evaluasi proses dan hasil pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan pelaksanaan pembelajaran  dan pencapaian hasil pembelajaran oleh setiap mahasiswa. Informasi kedua hal tersebut pada gilirannya sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran
2.      Manfaat
Manfaat dilaksanakannya evaluasi proses dan hasil pembelajaran ada beberapa hal, diantaranya yang penting √°dalah:
(1)   Memperoleh pemahaman pelaksanaan dan hasil pembelajaran yang telah  berlangsung atau dilaksanakan dosen,
(2)   Membuat keputusan berkenaan dengan pelaksanaan dan hasil pembelajaran, dan
(3)   Meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka upaya meningkatkan kualitas keluaran.




BAB II
Jenis dan Syarat-syarat Evaluasi Pembelajaran

A.    Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran

a.      Jenis evaluasi berdasarkan tujuan, dibedakan atas tujuh jenis evaluasi:
1.      Pre-test dan Post-test
Kegiatan pre-test  dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian baru. Tujuannya ialah untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan.[1]
Sedangkan post-test adalah kebalikan dari pre-test, yakni kegiatan evaluasi yang dilakukan guru pada setiap akhir penyajian materi.Tujuannya adalah untuk mengetahui taraf pengetahuan siswa atas materi yang telah diajarkan.
2.      Evaluasi Diagnostic
Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi atau menelaah  kelemahan-kelemahan siswa beserta       faktor-faktor penyebabnya.[2]
3.      Evaluasi selektif
Evaluasi selektif adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siswa yang paling tepat atau sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
4.      Evaluasi penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
5.      Evaluasi formatif
Evaluasi jenis ini dapat dipandang sebagai “ulangan” yang dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul. Evaluasi ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.



6.       Evaluasi sumatif
Ragam penilaian sumatif dapat dianggap sebagai “ulangan umum” yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran, atau disebut juga dengan evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.Evaluasi ini lazim dilakukan pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran.Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademik siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.
7.      Ujian Nasional (UN)
Ujian Nasional (UN) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif, yaitu sebagai alat penentu kenaikan status siswa.[3]

b.      Jenis evaluasi berdasarkan sasaran :
1.      Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan
2.      Evaluasi input
Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
3.      Evaluasi proses
Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.
4.      Evaluasi hasil atau produk
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.
5.      Evaluasi outcom atau lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yankni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.


c.       Jenis evalusi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran:
1.      Evaluasi program pembelajaran
Evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.
2.      Evaluasi proses pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3.      Evaluasi hasil pembelajaran
Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.

d.      Jenis evaluasi berdasarkan objek evaluasi:
1.      Evaluasi input
Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
2.      Evaluasi transformasi
Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain materi, media, metode dan lain-lain.
3.      Evaluasi output
Evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

e.        Jenis evaluasi berdasarkan subjek evaluasi:
1.      Evaluasi internal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
2.      Evaluasi eksternal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.



  
a.      Syarat evaluasi
Langkah pertama yang perlu ditempuh guru dalam menilai prestasi belajar siswa adalah menyusun alat evaluasi(test instrument) yang sesuai dengan kebutuhan, dalam artian tidak menyimpang dari indicator dan jenis prestasi yang diharapkan.
Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam perspektif psikologi belajar (The Psychology of learning) meliputi dua macam, yakni: 1). Reliabilitas; 2). Validitas (Cross, 1974; Barlow, 1985; Butler, 1990).
1)      Reliabilitas
Secara sederhana, reliabilitas (reliability) berarti hal tahan uji atau dapat dipercaya.Sebuah alat evaluasi dipandang reliable atau tahan uji apabila memiliki konsistensi atau keajegan hasil.[4]
2)      Validitas
Validitas berarti keabsahan atau kebenaran. Sebuah alat evaluasi dipandang valid atau abash apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.[5]

Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam mengadakan kegiatan evaluasi dalam proses pendidikan menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:194-198) terurai sebagai berikut : 
1.      Kesahihan
Kesahihan menggantikan kata validitas (validity) yang dapat diartikan sebagai ketepatan evaluasi mengevaluasi apa yang seharusnya di evaluasi. untuk memperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan insturmen yang memiliki/memenuhi syarat-syarat kesahihan suatu instrumental evaluasi. Kesahihan instrument evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan hasil pengalaman.

2.      Keterandalan
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrument evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat. Gronlund dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:196) mengemukakan bahwa, “keterandalan menunjukkan kepada konsistensi (keajegan) pengukuran yakni bagaimana keajegan skor tes atau hasil evaluasi lain yang berasal dari pengukuran yang satu ke pengukuran yang lain”. Dengan kata lain, keterandalan dapat kita artikan sebagai tingakat kepercayaan keajegan hasil evaluasi yang diperoleh dari suatu instrument evaluasi.

3.      Kepraktisan
Kepraktisan evaluasi dapat diartikan sebagai kemudahan-kemudahan yang ada pada instrument evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi/ memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpanya.

Sementara menurut Arikunto dan Jabar (2010:8-9) evaluasi memiliki ciri-ciri dan persyaratan sebagai berikut : 
1.      Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian pada umumnya.
2.      Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti harus berpikir secara sistematis yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang kinerja dari objek yang dievaluasi.
3.      Agar dapat mengetahui secar rinci kondisi dari objek yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.
4.      Menggunakan standar, Kiteria, atau tolak ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh dan untuk mengambil kesimpulan.
5.      Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan.
6.      Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indikator dari program evaluasi.
7.      Standar, kriteria, atau tolak ukur diterapkan pada indicator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan.
8.      Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.


b.      Ragam alat evaluasi
Secara garis besar, ragam alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk, yaitu: 1). Bentuk objektif; dan 2). Bentuk subjektif.Bentuk objektif biasanya diwujudkan dalam bentuk-bentuk alternative jawaban, pengisian titik-titik, dan pencocokan satu pernyataan dengan pernyataan lainnya.
1)      Bentuk objektif
Bentuk ini lazim juga disebut tes objektif, yakni tes yang jawabannya dapat diberi score nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya.[6]
2)      Bentuk subjektif
Alat evaluasi yang berbentuk tes subjektif adalah alat pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak ternilai dengan score atu angka pasti, seperti yang digunakan untuk evaluasi objektif.[7] Hal ini disebabkan banyaknya ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para siswa. Instrument evaluasi mengambil bentuk Essay examination, yakni soal ujian mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas.

c.       Model-Model Evaluasi
Beberapa model-model evaluasi dikemukakan oleh Arifin (2010:74-83) sebagai berikut : 
1.      Model Tyler
Model ini dibangung atas dua dasar pemikiran.Pertama, evaluasi ditujukan pada tingkah laku peserta didik.Kedua, evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil). Penggunaan model Tyler memerlukan informasi perubahan tingkah laku terutama pada saat sebelum dan sesudah terjadinya pembelajaran. Model Tyler disebut jugamodel black box karena model ini sangat menekankan adanya tes awal dan tes akhir. Ada tiga langkah pokok yang harus dilakukan, yaitu menentukan tujuan pembelajaran yang akan di evaluasi, menentukan situasi dimana peserta didik memperoleh kesempatan untuk menunjukkan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan, dan menentukan alat evaluasi yang akan dipergunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.


2.      Model yang Berorientasi Pada Tujuan
Model evaluasi ini mengugunakan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan.Model ini dianggap lebih praktis karena menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur.Tujuan model ini adalah membantu guru merumuskan tujuan dan menjelaskan hubungan antar tujuan dengan kegiatan.Kelebihan model ini terletak pada hubungan antara tujuan dengan kegiatan dan menekankan pada peserta didik sebagai aspek penting dalam program pembelajaran. Kekurangannya adalah memungkinkan terjadinya proses evaluasi melebihi konsekuensi yang tidak diharapkan.

3.      Model Pengukuran
Model ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran.Pengukuran digunakan untuk menentukan kuantitas suatu sifat (atribute) tertentu yang dimiliki oleh objek, orang maupun peristiwa, dalam bentuk unit ukuran tertentu.Objek evaluasi dalam model ini adalah tingkah laku peserta didik, mencakup hasil belajar (kognitif), pembawaan, sikap, minat, bakat, dan juga aspek-aspek kepribadian peserta didik.

4.      Model Kesesuaian
Menurut model ini, evaluasi adalah suatu kegiatan untuk melihat kesesuaian (congruence) antara tujuan dengan hasil belajar yang telah dicapai.Objek evaluasi adalah tingkah laku peserta didik, yaitu perubahan tingkah laku yang diinginkan pada akhir kegiatan pendidikan, baik yang menyangkut aspek kognif, afektif, maupun psikomotor.Model evaluasi ini memerlukan infomasi perubahan tingkah laku pada dua tahap, yaitu sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini adalah merumuskan tujuan tingkah laku, menentukan situasi dimana peserta didik dapat memperlihatkan tingkah laku yang akan di evaluasi, menyusun alat evaluasi, dan menggunakan hasil evaluasi.

5.      Educational System Evaluation Model
Menurut model ini, evaluasi berarti membandingkan performance dari berbagai dimensi dengan sejumlah criterion, baik yang bersifat mutlak/intern maupun relative/ekstern.

Model ini menekankan sistem sebagai suatu keseluruhan ini dan merupakan penggabungan dari beberapa model, yaitu :
a.       Model countenance.
b.      Model CIPP dan CDPP.
c.       Model Scriven.
d.      Model Provus.
e.       Model EPIC.
f.       Model CEMREL.
g.      Model Atkinson.

6.      Model Alkin
Menurut model ini evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi, memilih informasi yang tepat dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam meemilih alternative.

7.      Model Brinkerhoff
Pada model ini ada tiga jenis evaluasi disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, yaitu;
a.       Fixed vs Emergent Design
b.      Formative vs Summative Evaluation
c.       Desain eksperimental dan desain quasi eksperimental natural inquiry

8.      Illminative Model
Model ini lebih menekankan pada evaluasi kualitatif-terbuka.Kegiatan evaluasi dihubungakan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi.Hasil evaluasi lebih bersifat deskriptif dan interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi.Model ini lebih banyak menggunakan judgement.Objek evaluasi model ini mencakup latar belakang dan perkembangan sistem pembelajaran, proses pelaksanaan sistem pembelajaran, hasil belajar peserta didik, kesukaran-kesukaran yang dialamidari rencana sampai dengan pelaksanaan, termasuk efek samping dari sistem pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan tujuan dan pendekatan evaluasi dalam model ini, maka ada tiga fase evaluasi yang harus ditempuh, yaitu observe, inquiry, dan seek to expalain.
9. Model Responsif
Model ini menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik.Tujuan evaluasi adalah untuk memahami semua komponen program pembelajaran melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.Langkah-langkahh kegiatan evaluasi meliputi obsevasi, merekan hasil wawancara, mengumpulkan data, mengecek pengetahuan awal peserta didik, dan mengembangkan desain atau model.




BAB III
KESIMPULAN

Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran
Jenis evaluasi berdasarkan tujuan, dibedakan atas tujuh jenis evaluasi yaitu Pre-test dan Post-test, Evaluasi Diagnostic, Evaluasi selektif, Evaluasi penempatan, Evaluasi formatif, Evaluasi sumatif, Ujian Nasional (UN).
Maksud penilaian hasil-hasil pendidikan itu ialah untuk mengetahiu (dengan alasan yang bermacam-macam) pada waktu dilakukan penilaian itu sudah sejauh manakah kemajuan anak didik.Hasildari tindakan mengadakan penilaian itu lalu dinyatakan dalam suatu pendapat yang perumusannya bermacam-macam. Ada yang menggolong-golongkan dengan mempergunakan lambang-lambang A, B, C, D, E, dan ada yang mempergunakan skala sampai 11 tingkat yaitu mulai dari 0 sampai 10, dan ada yang memakai penilaian dari 0 sampai 100. Ditanah air kita umumnya orang mempergunakan angka dari 0 sampai dengan 10; tetapi akhir-akhir ini uga telah Nampak dipergunakan lambang A, B, C, D, dan E itu.





DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2010. Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik,Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 1989. Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Safruddin Abdul.2010. Evaluasi Progaram Pendidikan Pedoman Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Grondlund. 1993. How to Make Achievement Test and Assessment 5th Ed. New York: Macmillan Co.

Iskandar. 2009. Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru. Jakarta: Gaung Persada Press

Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada



[1]Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Hal:199
[2]Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Hal:200

[3]Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal: 145

[4]Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal:145

[5]Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal: 145

[6]Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal: 146

[7]Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal: 149


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar